Makalah Upacara Potong Gigi atau Mepandes Setelah Meninggal (Mati)

KATA PENGANTAR 
Om Swastyastu



Puji dan syukur kami panjatkan ke hadiran Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat waktu. Dalam makalah ini saya akan membahas mengenai “Upacara Potong Gigi Bagi Orang Yang Sudah Meninggal”. 

Makalah ini telah dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Maka, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makjalah ini. Oleh karena itu saya mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun saya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat saya harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. 

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. 

Om Santi Santi Santi Om

DAFTAR ISI 
Kata Pengantar............................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan...................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Metatah/Potong Gigi............................................................2 
2.2 Makna Dari Upacara Potong Gigi atau Mepandes 
2.3 Upacara Potong Gigi atau Mepandes Setelah Meninggal (Mati)...........4
2.4 Pantangan-Pantangan dalam upacara Potong Gigi...............................6 
2.5 pantangan- pantangan yang dihindari....................................................8
BAB III PENUTUP
A Kesimpulan..............................................................................................10
B Saran.......................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................12

BAB I 
PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang 

Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya hingga ia meninggal dunia. Salah satu yang harus dilaluli adalah upacara Potong Gigi atau Metatah/ Mepandes dalam bahasa bali. 

Makna Dari Upacara Potong Gigi atau Mepandes Upacara metatah merupakan salah satu ritual terpenting bagi setiap individu orang bali yang menganut agama hindu bali. Upacara ini menandai satu babak hidup memasuki usia secara berkala. 

Upacara Mepandes/Mesangih/ metatah yang dimaksud adalah memotong atau meratakan empat gigi seri dan dua gigi taring kanan dan kiri, pada rahang atas, yang secara simbolik dipahat 3 kali, diasah dan diratakan. Rupanya dari kata mesangih, yakni mengkilapkan gigi yang telah diratakan, muncul istilah mepandes sebagai bentuk kata halus (singgih) dari kata mesangih tersebut. 

Bila kita mengkaji lebih jauh, upacara Mapandes dengan berbagai istilah atau nama seperti diatas, merupakan upacara Sarira Samskara, yakni menyucikan diri pribadi seseorang, guna dapat lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa / Sang Hyang Widhi. Di bali upacara ini dikelompokan dalam upacara manusa Manusa Yadnya. 

Berdasarkan pengertian upacara Mepandes seperti diatas, dapatlah dipahami bahwa upacara ini merupakan upacara yang sangat penting bagi kehidupan umat Hindu, yakni mengentaskan atau menghilangkan segala jenis kotoran dalam diri manusia, melenyapkan sifat-sifat murka, dan menghilangkan Sad Ripu ( enam musuh dalam diri manusia ), dan sifat-sifat keraksasaan atau Asuri-Sampad lainnya.

Baca Juga Artikel Sebelumnya :
1.2 Rumusan Masalah 
  • Apakah yang dimaksud dengan upacara metatah ? 
  • Apa tujuan dari upacara metatah ? 
  • Bagaimanakah proses upacara metatah bagi orang meninggal ? 
  • Pantangan-Pantangan dalam upacara Potong Gigi ?


1.3 Tujuan penulisan 

  1. Sebagai media informasi tentang upacara metatah 
  2. Untuk mengetahui bagaimana proses upacara metatah bagi orang yang sudah meninggal 
  3. Untuk mengetahui sarana yang digunakan dalam pelaksanaan Upacara Mapandes (Upacara Potong Gigi). 
  4. Untuk mengetahui tata cara pelaksanaan Upacara Mapandes (Upacara Potong Gigi). 

BAB II 
PEMBAHASAN 

2.1 Pengertian Metatah/Potong Gigi 

Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya hingga ia meninggal dunia. Salah satu yang harus dilaluli adalah upacara Metatah/ Mepandes (Potong Gigi). 

Upacara Potong Gigi (Mapandes) mengandung arti pembersihan sifat buruk yang ada pada diri manusia. Dimana 6 buah taring yang ada di deretan gigi atas dikikir atau diratakan, upacara ini merupakan satu kewajiban, adat istiadat dan kebudayaan yang masih terus dilakukan oleh umat Hindu di Bali secara turun temurun sampai saat ini. 

Upacara ini dianggap sakral dan diperuntukan bagi anak-anak yang mulai beranjak dewasa, dimana bagi anak perempuan yang telah datang bulan, sedangkan bagi anak laki-laki telah memasuki masa akil balik atau suaranya telah berubah, dengan upacara ini anak anak dihantarkan ke suatu kehidupan yang mendewasakan diri mereka yang disebut dengan niskala. 

Adapun 6 sifat buruk manusia yang ada dalam diri manusia atau disebut dengan Sad Ripu yang harus dibersihkan sebagai berikut: 
  • KAMA (hawa nafsu yang tidak terkendalikan) 
  • LOBA (ketamakan/ingin selalu mendapatkan yang lebih) 
  • KRODHA (marah yang melampaui batas dan tidak terkendalikan) 
  • MADA (kemabukan yang membawa kegelapan dalam pikiran) 
  • MOHA (kebingungan/kurang mampu dalam berkonsentrasi) 
  • MATSARYA (iri hati atau dengki yang menyebabkan permusuhan) 
Dari semua sifat yang ada ini, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak baik/diinginkan, juga merugikan dan membahayakan anak-anak yang beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap orang tua untuk dapat memberikan nasihat, bimbingan serta permohonan doa kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar anak mereka terhindar dari pengaruh 6 sifat buruk/sad ripu yang sudah ada sejak manusia dilahirkan di dunia. 

2.2 Makna Dari Upacara Potong Gigi atau Mepandes 

Adapun makna yang dikandung dalam upacara mepandes ini adalah: 
  • Sebagai simbolis meningkatnya seorang anak menjadi dewasa, yakni manusia yang telah mendapatkan pencerahan, sesuai dengan makna dewasa, dari kata Devasya yang artinya milik dewa atau dewat. Seorang telah dewasa mengandung makna telah memiliki sifat dewata (Daivi Sampad) seperti diamanatkan dalam kitab suci Bhagavadita. 
  • Memenuhi kewajiban orang tua, karena telah memperoleh kesempatan untuk beryadnya, menumbuh kembangkan kepribadian seorang anak sehingga anak mencapai kedewasaan. Mengetahui makna dan hakekat penjelmaan sebagai umat manusia. 
  • Secara spiritual, seseorang yang telah disucikan akan lebih mudah menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur, kelak bila yang bersangkutan meninggal dunia, Atma yang bersangkutan akan bertemu dengan leluhurnya di alam Piṭṛa (Pitraloka). 
2.3 Upacara Potong Gigi atau Mepandes Setelah Meninggal (Mati) 

Dalam lontar Castra Proktah, orang yang sudah meninggal walaupun belum potong gigi (mepandes), sangat dilarang mengupacarai potong gigi disebut ngeludin wangke dan dikutuk kalau melanggarnya. Namun walaupun demikian lontar mengatakan sedemikian, kita menjumpai pula tradisi-tradisi yang hidup di masyarakat dengan peralatan yang digunakan untuk upacara potong gigi untuk orang yang meninggal. 

Walaupun tidak dalam bentuk tertulis namun bisa juga diterima oleh akal, dan sering dilakukan jaman dahulu. Mengenai peralatan yang digunakan dan orang yang bertindak sebagai Sangging (orang yang bertugas memotong gigi dengan kikir) adalah sebagai berikut: 
  • Yang bertindak sebagai Sangging harus orang tua atau orang yang lebih tua (dewasa)dan tidak boleh orang lain. 
  • Sebagai tumpuan tempat berdirinya sangging waktu metatah gigi itu dipergunakan padi (berdiri sambil menginjak padi) 
  • Tangan Sangging itu dibekali atau digelangi dengan uang kepeng (pis bolong) sejumlah 225 (satak selae). 
  • Sebagai penganti kikir (alat memotong gigi dipergunakan) anggapan yaitu alat yang biasa untuk memotong padi oleh para petani dibali. Di beberapa daerah lain biasanya juga menggunakan bunga tunjung (teratai) sebagai pengganti kikir. Dalam hal ini sudah tentu bunga teratai ini sebagai simbul untuk memotong gigi. 
  • Penggunaan lesung (alat penumbuk padi), sebagai peralatan upakara. 
Kembali lagi pada Lontar Proktaah yang melarang keras memotong gigi orang mati. Tetapi sebaiknya tradisi di beberapa tempat menganjurkan dengan alasan membayar hutang kewajiban orang tua kepada anaknya meskipun dengan peralatan yang khusus juga. Orang mati diperlakukan seperti orang tidur karena itu alat-alat upacaranya disesuaikan dengan arti mimpi. 

Dipulau Bali memang dikenal ada upacara menghidupkan secara spiritual atau simbolik orang yang sudah meninggal dengan membuatkan badan darurat dari banten (puspa sarira). Contohnya banten yang diletakan disebelah kanan mayat pada waktu masih disimpan di Bale Gede atau Semanggen. Demikian juga pada Nyekah Almarhum disertakan berbadan kayu Cendana dan daun beringin.

2.4 Pantangan-Pantangan dalam upacara Potong Gigi 

Ibu-ibu/wanita hamil tidak dibolehkan untuk melakukan upacara potong gigi atau mepandes. Ini dapat dilihat dalam Lontar Catur Cuntaka yang menjelaskan bahwa 
  • Mepandes adalah upacara yang menyebabkan diri cuntaka. Lamanya cuntaka, saat dia naik ke bale petatahan, selama metatah, dan sampai selesai. Diakhiri dengan mabeakala. Setelah mabeakala barulah cuntakanya hilang. Prosesi itu memakan waktu selama 1-2 jam. Walaupun masa cuntaka itu singkat, tetap saja ibu itu kena cuntaka. 
  • Bayi atau jabang bayi yang ada dalam kandungan adalah roh suci yang patut dihormati, dipuja atas perkenan Sang Hyang Widhi Wasa yang “mengijinkan” roh itu menjelma kembali sebagai manusia (walaupun masih berupa janin). Jadi ibu yang mengandung bayi yang suci, patut dihindarkan dari penyebab cuntaka, bukan hanya dalam prosesi potong gigi tetapi dengan penyebab cuntaka yang lainnya misalnya melayat ke rumah orang meninggal, mengunjungi penganten (pawiwahan). 
Demi keselamatan ibu dan bayi, sebaiknya upacara potong gigi itu ditunda sampai bayinya lahir dan sudah berusia lebih dari 3bulan. 

2.5 pantangan- pantangan yang dihindari 
  • Tidak boleh makan dan minum panas atau dingin sehendaknya selama 3 hari. Karena apabila makan dan minum panas atau dingin maka akan merusak gigi 
  • Tutur kata tidak boleh menjelek-jelekan orang lain 
  • Sebelum dan sesudah potong gigi tidak dibolehkan meninggalkan rumah selama 3 hari 
  • Tidak diperbolehkan membunuh binatang atau mencacimakai orang lain. 

BAB III 
PENUTUP 

A. Kesimpulan 

Dari serangkaian upacara diatas dapat kita pahami bahwa dalam diri setiap manusia sejak mereka dilahirkan sudah terdapat sifat yang tidak baik, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal- hal yang tidak baik/diinginkan, juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak yang akan beranjak dewasa kelak dikemudian hari. 

Dengan melakukan upacara Mepandes ini anak yang sudah dewasa diingatkan dan diajarkan untuk tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama dan bisa menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa. 

Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak
dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.

Prosesi potong gigi ini memang membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena prosesinya membutuhkan beberapa kelengkapan sesajen dan juga banyak keluarga yang hadir.Mahalnya biaya membuat orang Bali lebih memilih ritual Metatah ini dilakukan berkelompok untuk menghemat biaya. 

B. Saran

Sebagai warga negara Indonesia khususnya sebagai masyarakat Bali senantiasa harus selalu memahami dan menanamkan dalam diri dan kehidupan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam adat istiadat khas Bali seperti Upacara Potong Gigi ini dan adat istiadat lainnya, agar kita bias menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. 

DAFTAR PUSTAKA

Informasi ini di kutip dari:
- Buku berjudul: Manusa Yadnya
- Karangan : Rai, dkk
- Penerbit: Hanuman Sakti, Jakarta, 1994

0 Response to "Makalah Upacara Potong Gigi atau Mepandes Setelah Meninggal (Mati)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel