Paper Sejarah dan Perkembangan Lembaga Keuangan di Indonesia

Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lain (LPD) 

Sejarah dan Perkembangan Lembaga Keuangan di Indonesia

A. LATAR BELAKANG 

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kebudayaan manusia mengalami perkembangan pula. Termasuk perkembangan perbankkan di Indonesia yang semakin berkembang membuat perekonomian manusia sangat membutuhkan aturan yang dapat meningkatkan taraf hidup manusia sendiri yang telah banyak menyimpang seiring dengan perkembangan pemikiran manusia yang semakin maju. 

Bank tersebut mengalami perubahan dan terus mengalami perubahan yang disesuaikan dengan kemajuan zaman. Demikin untuk mempermudah kita dalam memahami perbankan yang satu dengan hukum yang lainnya, maka patutlah kita mempelajari Pengertian bank dan sejarah bank. Yang terjadi pada masa lampau sampai sekarang dari segala bidang bank itu sendiri. 

B. RUMUSAN MASALAH 

1. Apakah pengertian bank ? 
2. Bagaimanakah sejarah lembaga keuangan di Indonesia ? 
3. Bagaimana perkembangan lembaga keuangan di Indonesia ? 

C. TUJUAN PENULISAN 

1. Agar dapat mengetahui pengertian bank. 
2. Untuk mengetahui bagaimana sejarah di Indonesia. 
3. Untuk mengetahui perkembanga lembaga keuangan di Indonesia. 

BAB II 
PEMBAHASAN 

A. PENGERTIAN BANK 

Dalam sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito . Kemudian bank juga dikenal sebagai untuk meminjam uang (kredit)bagi masyarakat yang membutuhkannya. Bank juga dikenal sebagai tempat untuk menukar uang, memindahkan uang atau menerima segala macam bentuk pembayaran dan setoran seperti pembayaran listrik, telepon, air,pajak,uang kuliah dan pembayaran lainnya. 

Undang-undang RI nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yangdimaksud dengan BANK adalah “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak” 

Dari pengertian diatas dapat dijelaskan secara lebih luas bahwa bank merupakan perusahaanyang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktifitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Sehingga berbicara mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuangan. Aktifitas perbankan yang pertama adalah menghimpun dana dari masyarakat luas yang dikenal dengan istilah didunia perbankan adalah kegiatan funding. Pengertian menghimpun danamaksudnya adalah kegiatan funding. 

Pengertian menghimpun dana maksudnya adalah mengumpulkan atau mencari dana dengan cara membeli dari masyarakat luas. Pembelian dana dari masyarakat ini dilakukan oleh bank dengan cara memasang berbagai strategi agar masyarakat mau menanamkan dananya dalam bentuk simpanan. Jenis simpanannya yang dapat dipilih oleh masyarakat adalah seperti giro, tabungan, sertifikat deposito dan deposito berjangka. 

Agar masyarakat mau menyimpan uangnya di bank, maka pihak perbankan memberikanrangsangan berupa balas jasa yang akan diberikan kepada si penyimpan. Balas jasa tersebut dapat berupa bunga, bagi hasil, hadiah, pelayanan atau balas jasa lainnya. Semakin tinggi balas jasa yang diberikan, akan menambah minat masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank oleh karena itu pihak perbankan harus memberikan rangsangan dan kepercayaan sehingga masyarakat berminat menanam kan dananya. 

Setelah memperoleh dana dalam bentuk simpanan dari masyarakat, maka oleh perbankan danatersebut diputarkan kembali atau dijualkan kembali ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau lebih dikenal dengan istilah kredit (lending. Dalam pemberian kredit juga dikenakan jasa pinjaman kepada penerima kredit (debitur)dalam bentuk bunga dan biaya administrasi. Sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah dapat berdasarkan bagi hasil atau penyertaan modal. 

Besarnya bunga kredit sangat dipengaruhi oleh besarnya bunga simpanan.Semakin besar atausemakin mahal bunga simpanan, maka semakin besar pula bunga pinjaman dan demikian pula sebaliknya. Disamping bunga simpanan pengaruh besar kecil bunga pinjaman juga dipengaruhi oleh keuntungan yang diambil, biaya operasi yang dikeluarkan, cadangan resiko kredit macet pajak serta pengaruh lainnya jadi dapat disimpulkan bahwa kegiatan menghimpun dana(funding) dan menyalurkan dana (lending) ini merupakan kegiatan utama perbankan. 

Keuntungan utama dari bisnis perbankan yang berdasarkan prinsip konvensional diperoleh dariselisih bunga simpanan yang diberikan kepada penyimpan dengan bunga pinjaman atau kredit yang disalurkan. Keuntungan dari selisih bunga ini di bank dikenal dengan istilah speread based. 

Apabila suatu bank mengalami suatu kerugian dari selisih bunga, dimana suku bunga simpanan lebih besar dari suku bunga kredit, maka istilah ini dikenal dengan nama negative speread. Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah tidak dikenal istilah bunga dalam memberikan jasa kepada penyimpan maupun peminjam .di bank ini jasa bank yang diberikan disesuaikan dengan prinsip syariah sesuai dengan hokum islam. 

Prinsip syariah yang diterapkan oleh bank syariah adalah pembiyaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabab ), pembiyaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah) prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murababab ) atau pembiyayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarab) atau dengan adanya pemilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarab wa iqtina). 

System bank berdasarkan prinsip syariah sebelumnya di Indonesia hanya dilakukan bank oleh bank syariah seperti bank muamalat Indonesia dan BPR syariah lainnya. Dewasa ini sesuai dengan undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998 yang baru bank umum pun dapat menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah asal sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh bank Indonesia. Disamping itu perbankan juga melakukan kegiatan jasa-jasa pendukung lainnya. Jasa-jasa ini diberikan untuk mendukung kelancaran kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana, baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan simpanan dan kredit maupun tidak langsung. Jasa perbankan lainnya antara lain meliputi: 

1. Jasa Pemindahan Uang (Transfer) 7. Bank Crad 
2. Jasa Penagihan (Inkaso) 8. Bank Draft 
3. Jasa Kliring (Clearing) 9. Letter Of Credit (L/C) 
4. Jasa Penjualan Mata Uang Asing (Valas) 10. Bank Garansi dan Refrensi Bank 
5. Jasa Safe Deposit Box 11. Serta jasa bank lainnya/ 
6. Travellers Cheque 

Kelengkapan dari jasa yang ditawarkan sangat tergantung dari kemampuan bank masing-masing. Dengan kata lain semakin mampu bank tersebut, maka semakin banyak ragam produk yang ditawarkan. Kemampuan bank dapat dilihat dari segi permodalan, manajemen serta fasilitas yang dimilikinya. Pembahasan masing-masing dari kegiatan bank di atas akan dibahas dalam bab tersendiri. 

B. SEJARAH LEMBAGA KEUANGAN DI INDONESIA 

Usaha perbankan baru dimulai dari zaman Babylonia kemudian dilanjutkan ke zaman Yunani Kuno dan Romawi. Namun pada saat itu tugas utama bank hanyalah sebagai tempat tukar menukar uang. Seiring dengan perkembangan perdagangan dunia maka perkembangan perbankanpun semakin pesat karena perkembangan dunia perbankan tidak terlepas dari perkembangan perdagangan. 

Bank-bank yang sudah terkenal pada saat itu di benua eropa adalah Bank Venesia tahun 1171, kemudian menyusul Bank of Genoa dan Bank of Barcelona pada tahun 1320. Sebaliknya perkembangan perbankan di daratan inggris baru dimulai pada abad ke-16. 

Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Pada saat itu terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia Belanda antara lain: 

1. De Javasche NV 4. Nederland Handles Maatscappij (NHM) 
2. De Post Paar Bank 5. Nationale Handles Bank (NHB) 
3. De Algemenevolks Crediet Bank 6. De Escomto Bank NV 

Disamping itu terdapat pula bank-bank milik pribumi, China, Jepang dan Eropa lainnya antara lain: 

1. Bank Nasional Indonesia 5. The Yokohama Species Bank 
2. Bank Abuan Saudagar 6. The Matsui Bank 
3. NV Bank Boemi 7. The Bank of China 
4. The Charteredbank of India 8. Batavia Bank 

Di zaman kemerdekaan perkembngan perbankan di Indonesia bertambah maju dan berkembang. Beberapa bank milik Belanda dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. Bank-bank yang ada pada awal kemerdekaan ntara lain: 
  • 1946. Bank Negara Indonesia yang didirikan tanggal 5 juli 1946 kemudian menjadi BNI 1946. 
  • 1947. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 februari 1946, yang pada mulanya adalah De Algemene Volk Crediet Bank. 
  • 1948. Bank Surakarta MAI (Maskapai Adil Makmur) tahun 1945 di Solo. 
  • 1949. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946. 
  • 1950. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan. 
  • 1951. Indonesia Banking Corporation tahun 1947 di Yogyakarta yang kemudian menjadi Bank Amerta. 
  • 1952. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946. 
  • 1953. Bank Dagang Indonesia NV di Banjarmasin tahun 1949. 
  • 1954. Kalimantan Corporation Trading di Samarinda tahun 1950. 
  • 1955. Bank Timur NV di Semarang kemudian marger dengan Bank Central Asia (BCA) tahun 1949. 
  • 1956. SEJARAH BANK PEMERINTAH. 
Sejarah perbankan tidak terlepas dari pengaruh negara yang menjajahnya, baik untuk bank pemerintah maupun bank swasta nasional. 

1. Bank Sentral 
Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) berdasarkan UU No. 13 tahun 1968. Kemudian ditegaskan lagi dengan undang-undang nomor 23 tahun 1999. 

2. Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor. 
Berasal dari De Algemene Volkcrediet Bank, kemudian dilebur setelah menjadi Bank tunggal dengan nama Bank Nasional Indonesia (BNI) Unit II yang bergerak dibidang rural dan eksim dipisahkan lagi menjadi: 
a).      Yang membidangi rural menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan UU No.21 tahun 1968. 
b).      Yang membidangi eksim dengan UU No. 22 tahun 1968 menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia. 
c).      Bank Negara Indonesia 1946 (BNI). Bank ini menjalankan fungsi BNI unit III dengan UU No. 17 tahun 1968 berubah menjadi Bank Negara Indonesia 1946. 

3. Bank Dagang Negara (BDN) 
BDN berasal dari Escompto Bank yang dinasionalisir dengan PP nomor 13 tahun 1960,namun PP ini dicabut dan diganti dengan UU No.18 tahun 1968 menjadi Bank Dagang Negara. 

4. Bank Bumi Daya (BBD) 
Bank ini menjadi Bank Negara Indonesia unit IV dan berdasarkan UU No.19 tahun 1968 menjadi Bank Bumi Daya. 

5. Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO) 
Didirikan dengan UU No.21 tahun 1960 yang merupakan kelanjutan dari Bank Industri Negara (BIN) tahun 1951. 

6. Bank Pembangunan Daerah (BPD) 
Bank ini didirikan di daerah-daerah tingkat I. dasar hukum pendiriannya adalah UU No.13 tahun 1962. 

7. Bank Tabungan Negara (BTN) 
BTN berasal dari De Post Paar Bank kemudian menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950. Kemudian menjadi Bank Negara Indonesia Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara dengan UU No.20 tahun 1968. 

8. Bank Mandiri 
Bank ini merupakan hasil marger antara Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), dan Bank Ekspor Impor (Bank Eksim) yang dilaksanakan pada tahun 1999. 

C. PERKEMBANGAN LEMBAGA KEUANGAN di INDONESIA 

Lembaga keuangan di Indonesia mulai berkembang pada waktu Indonesia memulai tahap pembangunan pada awal Repelita I per 1 April 1969. Fungsi lembaga keuangan pada waktu itu adalah mendorong mobilisasi tabungan dan mengarahkan penggunaannya secara efektif dan produktif serta mengarahkan alokasi investasi sesuai dengan prioritas pembangunan untuk meningkatkan produktivitas. Pada Repelita II" lembaga keuangan semakin berkembang baik dari yang sudah dibentuk pada Repelita I maupun yang muncul pada Repelita II. Pada Repelita III dibentuk Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) & yang bertugas mengatur prosedur penawaran dan perdagangan surat berharga di bursa. 

Dalam dunia perbankan di Indonesia kurang waktu belakangan ini mengalami berbagai macam perubahan. Ada 4 macam periode yang terjadi di Indonesia : 

1. Periode 1988 - 1996. 

Dikeluarkannya paket deregulasi 27 Oktober 1988, antara lain berupa relaksasi ketentuan permodalan untuk pendirian bank baru telah menyebabkan munculnya sejumlah bank umum berskala kecil dan menengah. Pada akhirnya, jumlah bank umum di Indonesia membengkak dari 111 bank pada Oktober 1988 menjadi 240 bank pada tahun 1994-1995, sementara jumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) meningkat drastis dari 8.041 pada tahun 1988 menjadi 9.310 BPR pada tahun 1996. 

2. Periode 1997 - 1998 

Bank Indonesia, pemerintah dan jasa lembaga-lembaga internasional berupaya keras menanggulangi krisis tersebut, antara lain dengan melaksanakan rekapilitasasi perbankan yang menelan dana lebih dari Rp 400 triliun terhadap 27 bank dan melakukan pengambilalihan kepemlikan terhadap 7 bank lainnya. 
Langkah-langkah untuk menanggulangi krisis keuangan dan perbankan: 
Penyediaan likuiditas kepada perbankan atau dikenal dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) 
Merekapilitalisasi bank yang memiliki dampak yang signifikan terhdap kebijakannya 
Menutup bank yang bermasalah dan melakukan konsolidasi perbankan 
Mendirikan lembaga khusus untuk menangani masalah yang ada di industri perbankan seperti Bank Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) 
Memperkuat kewenangan Bank Indonesia dalam pengawasan perbankan melalui penetapan Undang-undang No 23/1993 

3. Periode 1999 - 2002 

Krisis perbankan demikian parah pada kurun waktu 1997-1998 memaksa pemerintah dan Bank Indonesia untuk melakukan pembenahan di sektor perbankan dalam rangka melakukan stabilitas sistem keuangan dan mencegah terulangnya krisis. 

Langkah yang dilakukan sehubungan dengan itu: 
Memperkuat kerangka pengaturan dengan menyusun rencana implementasi yang jelas untuk memenuhi 25 Basel Core Principles For Effective Banking Supervision yang menjadi standard internasional 
Meningkatkan infrastruktur sistem pembayaran dengan mengembangkan Real Time Gross Settelements (RTGS) 
Menerapkan bank guarantee scheme untuk melindungi simpanan masyarakat 
Merekstrukturisasi kredit macet 
Melaksanakan program privatisasi dan divestasi untuk bank BUMN dan bank yang direkap 
Meningkatkan persyaratan modal bagi pendirian bank baru 

3. Periode 2002 - sekarang 

Bebagai perkembangan positif pada sektor perbankan sejak dilaksanakannya program stabilisasi antara lain tampak pada pemberian kredit yang mulai meningkat pada inovasi produk yang mulai berjalan, seperti pengembangan produk derivatif, serta kerjasama produk dengan lembaga lain. 

BAB III 
PENUTUP 

A. KESIMPULAN 

Dari pengertian diatas dapat dijelaskan secara lebih luas bahwa bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktifitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Sehingga berbicara mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuangan. Begitu juga dengan sejarah bank yang dari dahulu sudah terpengaruh dari luar beserta jenis-jenis bank yang sangat beragam di indonesia. 

0 Response to " Paper Sejarah dan Perkembangan Lembaga Keuangan di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel