Makalah Perilaku Individu Dalam Organisasi, karakteristik biografis, kemampuan, kepribadian dan pembelajaran

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam menghadapi era globalisasi ini, organisasi perlu meningkatkan kinerjanya agar mampu bersaing dalam banyak konteks, yang bermakna bahwa kapasitas untuk berubah darisebuah organisasi penting sekali.

Organisasi yang harus berubah adalah organisasi yangmenggabungkan pembelajaran dalam tempat kerjanya. Upayanya berupa kualitas adaptasi danaspek fundamental dimana individu harus melihat kedalam perubahan suatu paradigma. 

Dalam kontek ini individu haruslah merubah sikap atau dengan kata lain menyesuaikan perkembangan jaman karena individu dianggap sebagai penentu maju mundurnya suatu organisasi.Dikarenakan individu adalah segalanya bagi perkembangan organisasi, mungkin bisadikata bahwa organisasi tanpa individu adalah suatu kebohongan belaka atau tak mungkin.

Dari hal ini maka kita lihat mengenai sebagian sifat dan pemikiran individu yang harus dimiliki demi terwujudnya suatu organisasi yang baik. Walaupun tanpa meniadakan komponen - komponen lain seperti teknologi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari karakteristik biografis ?

2. Apa pengertian dari kemapuan ?

3. Apa pengertian dari kepribadian ?
4. Apa pengertian dari pembelajaran ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian dari karakteristik biografis !
2. Untuk mengetahui pengertian dari kemapuan !
3. Untuk mengetahui pengertian dari kepribadian !
4. Untuk mengetahui pengertian dari pembelajaran 1

BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Karakteristik Biografis 


Karakteristik biografis merupakan karakterisitik pribadi)perorangan, seperti usia, jeniskelamin, status perkawinan, jumlah tanggungan dan masa kerja, yang diperoleh se!ara mudahdan objektif dari arsip pribadi seseorang. 

Karakteristik biografis dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: 


1. Usia 

Hubungan antara usia dan kinerja diperkirakan akan terus menjadi isu yang penting dimasa yang akan datang. Dan hal ini disebabkan setidaknya oleh 3 alasan, yaitu: 
  • Keyakinan yang meluas bahwa kinerja merosot seiring dengan usia 
  • Realita bahwa angkatan kerja menua 
  • Mulai adanya perundang-undangan yang melarang segala ma!am bentuk pensiun yang bersifat perintah. 
Usia mempunyai hubungan positif dengan tingkat keluar masuknya pegawai, produktifitas dan kepuasan kerja. "Semakin tua usia, semakin kecil untuk keluar dari suatu perusahaan, semakin produktif dan semakin menikmati kepuasan akan pekerjaan.

Tetapi usia berbanding terbalik dengan tingkat kemungkinan walaupun tidak mutlak. Riset terakhir menemukan bahwa umur dan kinerja tidak memiliki hubungan. Mc Donald yang mengerjakankaryawan yang sudah berumur di atas 55 tahun ternyata kinerja mereka tidak kalah dengan yanglebih muda. 

2. Jenis Kelamin 

Dari segi jenis kelamin, umumnya tidak ada perbedaan yang konsisten antara pria dan wanita dalam hal kemampuan memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, produktivitas pekerjaan, kepuasan kerja atau kemampuan belajar.

Namun hasil studi menunjukkan bahwa wanita lebih bersedia mematuhi wewenang, dibandingkan pria yang lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya dalam memiliki pengharapan untuk sukses, namun tetap saja perbedaannya kecil. 

Biasanya, yang membuat adanya perbedaan adalah karena posisi wanita sebagai ibu yang juga harus merawat anak-anaknya. ni juga yang mungkin menimbulkan anggapan bahwa wanitalebih sering mangkir daripada pria. (ika anak-anak sakit, tentulah ibu yang akan merawat danmenemani dirumah. 

3. Setatus Perkawinan 

Hasil riset menunjukkan bahwa pegawai yang sudah berkeluarga tingkat absennya lebih rendah dan juga mengalami pergantian yang rendah serta cenderung lebih puas dari pada yang belum berkeluarga. tidak ada uckup bukti dari hasil riset bahwa terdapat dampak produktivitas. 

4. Jumlah Tanggungan 

Nirman (1999) menulis bahwa tidak ada informasi yang cukup tentang hubungan antara jumlah tanggungan seseorang dengan produktivitasnya. tetapi, jumlah anak yang dimiliki oleh pekerja berhubungan erat dengan tingkat absensi dan kepuasan kerjanya. 

5. Masa Kerja 

Masa kerja adalah peramal yang cukup baik mengenai ke!enderungan karyawan seperti karyawan yang telah menjalankan suatu pekerjaan dalam masa tertentu, produktivitas dan kepuasannya akan meningkat, sementara tingkat kemangkiran berkurang dan kemungkinan keluar masuk karyawan lebih kecil.

Masa kerja juga tidak mempunyai alasan bahwa karyawan yang lebih lama bekerja (senior) akan lebih produktif dari pada yang junior. "(senioritas)/masa kerja berkaitan secara negatif dengan kemangkiran dan dengan tingkat turnover. Berikut ilustrasinya: 
  1. Masa kerja tinggi = tingkat absensi dan turnover rendah 
  2. Masa kerja rendah = tingkat absensi dan turnover tinggi
Kedua hal di atas berkaitan secara negatif 
  • Masa kerja tinggi = kepuasan kerja tinggi 
  • Masa kerja rendah = kepuasan kerja rendah 
Kedua hal di atas berkaitan secara positif 

2.2 Kemampuan 

Kemampuan adalah suatu kapasitas yang dimiliki seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas suatu pekerjaan (Robbins, 2001). Ada dua jenis kemampuan, yaitu: 

1. Kemampuan Intelektual 

Kemampuan intelektual merupakan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan atau menjalankan kegiatan mental. (Robbins, 2001) mencatat 7 (tujuh) dimensi yang membentuk kemampuan intelektual, yakni: 
  • Kecerdasan numerik adalah kemampuan berhitung dengan cepat dan tepat, 
  • Pemahaman verbal, yaitu kemampuan memahami apa yang dibaca atau didiengar, 
  • Kecepatan perseptual, yaitu kemampuan mengenal kemiripan dan perbedaan visual dengan cepat dan tepat, 
  • Penalaran induktif adalah kemampuan mengenal suatu urutan logis dalam satu masalah dan pemecahannya, 
  • Penalaran deduktif adalah kemampuan menggunakan logika dan menilai implikasi dari suatu argument, 
  • Visualisasi ruang, yaitu kemampuan membayangkan bagaimana suatu obyek akan tampak seandainya posisi dalam ruang diubah, 
  • Ingatan, yaitu kemampuan menahan dan mengenang kembali pengalaman masa lalu. Beberapa profesi yang erat kaitannya dengan kemampuan intelektual diantaranya adalah akuntan, periset. 
2. Kemampuan Fisik 

Kemampuan fisik merupakan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntutdaya stamina, kecekatan dan keterampilan.

Penelitian terhadap berbagai persyaratan yang dibutuhkan dalam ratusan pekerjaan telah mengidentifikasi sembilan kemampuan dasar yangtercakup dalam kinerja dari tugas-tugas fisik, yaitu: kekuatan dinamis, kekuatan tubuh,kekuatan statis, kekuatan eksplosif, fleksibilitas luas, fleksibilitas dinamis, koordinasi tubuh,keseimbangan dan stamina.

"setiap individu memiliki kemampuan dasar tersebut secara berbeda- beda. Kemampuan intelektual berperanan besar dalam pekerjaan yang rumit, sedangkan kemampuan fisik hanya menguras kapabilitas fisik.

2.3 Kepribadian 

Para psikolog cenderung mengartikan kepribadian sebagai suatu konsep dinamis yang mendeskripsikan pertumbuhan dan perkembangan seluruh sistem psikologis seseorang. Definisi kepribadian yang paling sering digunakan dibuat oleh Gordon Allport hampir 76 tahun yang lalu.

Ia mengatakan bahwa kepribadian adalah: organisasi dinamis dalam suatu sistem psikofisiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri se!ara unik terhadap lingkungannya. Kepribadian juga dapat diartikan keseluruhan cara dimana seorang individu bereaksi dan berinteraksi. kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bias diukur yang ditunjukkan oleh seseorang. 
  • Menurut Umar Nimran, kepribadian adalah keseluruhan cara bagaimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain yang digambarkan dalam bentuk sifat-sifat yang dapat diukur dan dilihatkan seseorang. 
  • Menurut Robbins, kepribadian itu sebagai total dari cara-cara dimana seseorang)individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain, yang digambarkan dalam bentuk sifat-sifat yang dapat diukur dan dapat diperlihatkan. 
  • Menurut Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, mendefinisikan kepribadian sebagai gabungan dari ciri fisik dan mental yang bersifat tetap yang memberi identitas pada seseorang individu. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepribadian seseorang menurut Robbins disebutkan ada tiga, yaitu: 
1. Faktor Keturunan 

Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah,gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua, yaitu komposisi biologis, psikologis dan psikologis bawaan mereka.

Pendekatan keturunan berpendapat bahwa penjelasan pokok mengenai kepribadian seseorang adalah struktur molekul dari gen yang terdapat dalam kromosom. Terdapat tiga dasar penelitian berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang.

Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketigameneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi. 

2. Factor Liangkungan 

Factor lain yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter kita adalah lingkungan dimana kita tumbuh dan dibesarkan norma dalam keluarga, teman-teman, dan kelompok sosial dan pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Faktor-faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian kita. 

3. Faktor Situasi 

Factor lainnya adalah situasi. ini berarti, kepribadian sesorang yang banyak ditentukan oleh bawaan lahir, lingkungan yang relatif stabil, akan dapat berubah karena adanya kondisisituasi tertentu yang berubah. 

a. Tipe – tipe Keperibadian 

Holland dalam Haryono (2001) memformulasikan tipe-tipe kepribadian sebagai berikut: 
  • Tipe Realistik 
Mereka yang berada area ini adalah cenderung sebagai orang yang memiliki keengganansosial, agak pemalu, bersikap menyesuaikan diri, materialistik, polos, keras hati, praktis, suka berterus terang, asli, maskulin dan cenderung atletis, stabil, tidak ingin menonjolkan diri,sangat hemat, kurang berpandangan luas dan kurang mau terlihat. 
  • Tipe Investigatif 
Mereka yang berada dalam tipe ini cenderung berhati-hati, kritis, ingin tahu, mandiri, intelektual ,instropektif, introvert, metodik, agak pasif, pesimis, teliti, rasional, pendiam,menahan diri dan kurang populer. 
  • Tipe Arttistik 
Orang-orang yang masuk dalam tipe ini cenderung untuk memperlihatkan dirinya sebagai orang yang agak sulit (complicated), tidak teratur, emosional, tidak materaialistik, idealistis, imaginitif, tidak praktis, impulsif, mandiri, instropektif, intuitif, tidak menyesuaikan diri dan orisinil asli. 
  • Tipe Sosial 
Mereka yang tergolong dalam tipe sosial ini cenderung untuk memperlihatkan dirinya sebagai orang yang suka kerjasama, suka menolong, sopan santun, murah hati, agak konservatif, idealistis, persuasif, bertanggung jawab, bersifat sosial, bijaksana dan penuh pengertian. 
  • Tipe Enterprising 
Mereka yang masuk dalam tipe ini cenderung memperlihatkan dirinya sebagai orang yang gigih mencapai keuntungan, petualang, bersemangat (ambisi), argumentatif, dominan, energik, suka menonjolkan diri, suka spekulasi dan membujuk, impulsif, optimis, pencari kesenangan, percaya diri, sosial dan suka bi!ara. 
  • Tipe Konvensional 
Mereka yang masuk dalam tipe ini adalah orang-orang yang mudah menyesuaikan diri, teliti, dipensif, efesien, kurang fleksibel, pemalu, patuh, sopan santun, teratur dan cenderung rutin, keras hati, praktis, tenang, kurang imajinasi dan kurang mengontrol diri. 

2.4 Pembelajaran 

Definisi pembelajaran secara umum adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Ironisnya disini kita dapat mengatakan bahwa perubahan perilaku menunjukkan bahwa pembelajaran telah terjadi dan pembelajaran adalah perubahan perilaku.

Sedangkan definisi lain menurut Robbins 2001 mengatakan pembelajaran dalam prespektif perilaku keorganisasian adalah proses perubahan yang relatif konstan dalam tingkah laku yang terjadi karena pengalaman atau pelatihan. Menurut Robbins ada 3 teori untuk menjelaskan bagaimana orang mendapatkan pola-pola perilaku, yaitu sebagai berikut: 

a. Pengkondisian Klasik 

Pengkondisian klasik tumbuh berdasarkan eksperimen untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang bordering. Model ini diperkenalkan oleh seorang ahli fisiolog Rusia bernama Ivan Pavlov pada tahun 190-an.

Pada dasarnya, model ini mempelajari sebuah respons berkondisi mencakup pembangunan hubungan antara rangsangan berkondisi dan rangsangan tidak berkondisi. ketika rangsangan tersebut, yang satu menggoda dan yang lainnya netral, dipasangkan rangsangan yang netral menjadi sebuah rangsangan berkondisi dan dengan demikian mengambil sifat-sifat dari rangsangan tidak berkondisi tersebut. 

b. Pengkondisian Operant 

Pengkondisian operant menyatakan bahwa perilaku merupakan fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya. Individu belajar berperilaku untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan. Perilaku operant berarti perilaku secara 

sukarela atau yang dipelajari, kebalikan dari perilaku refleksi atau tidak dipelajari. Kecendrungan untuk mengulangi perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku. Dengan demikian, penegasan akanmemperkuat sebuah perilaku dan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi.

Psikolog Harvard B.F Skinner, mengemukakan bahwa menciptakan konsekuensi yangmenyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku tertentu akan meningkatkan frekuensi perilaku tersebut.

Ia mendemonstrasikan bahwa individu berkemungkinan besar akan melakukan perilaku yang diharapkan jika mereka ditegaskan secara positif untuk melakukannya, paling efektif, penghargaan diberikan segera setelah respons yang diharapkan diperoleh dan perilaku yang tidak diberi penghargaan atau dihukum, berkemungkinan lebih kecil untuk di ulang. 

c. Pembelajaran Sosial 

Seseorang dapat belajar dengan mengamati apa yang terjadi pada individu lain dan hanya dengan diberi tahu mengenai sesuatu, seperti belajar dari pengalaman langsung. Disini teori pembelajaran sosial adalah sebuah perluasan dari pengkondisian operant. teori ini berasumsi bahwa sebuah fungsi dari konsekuensi- teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan atau observasi dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran.

 Individu merespons pada bagaimana mereka merasakan dan mendefinisikan konsekuensi, bukan pada konsekuensi objektif itu sendiri. ada empat model yang telah ditemukan oleh Robbins (2001) untuk menentukan pengaruh sebuah model pada seorang individu, yaitu: 
  • Proses Perhatian, Individu berminat belajar dari suatu model bila model itu cukup dikenal, cukup dapat menarik perhatiannya sedemikian rupa serta apa yang disajikan penting buatnya. 
  • Proses Penyimpanan, Pengaruh dari suatu model bergantung kepada seberapa baik individu mengingat tindakan model setelah model tersebut tidak lagi tersedia. 
  • Proses Reproduksi Motor, setelah seseorang melihat sebuah perilaku baru dengan mengamati model, pengamatan tersebut harus diubah menjadi tindakan. Proses ini kemudian menunjukkan bahwa individu itu dapat melakukan aktivitas yang dicontohkan oleh model tersebut. 
  • Proses Penegasan, individu akan termotivasi untuk menampilkan perilaku yang dicontohkan jika tersedia insentif positif atau penghargaan. Perilaku yang ditegaskan secara positif akan mendapat lebih banyak perhatian, dipelajari dengan lebih baik dan dilakukan lebih sering. 

BAB III 

PENUTUP 
3.1 KESIMPULAN 

Setiap individu adalah pribadi yang unik. Manusia pada hakekatnya adalah kertas kosongyang di bentuk oleh lingkungan mereka. Perilaku manusia merupakan fungsi dari interaksi antara person atau individu dengan lingkungannya. Mereka berperilaku berbeda satu sama lain karena ditentukan oleh masing - masing lingkungan yang memang berbeda.

Secara biografis individu memiliki karakteristik yang jelas bisa terbata, seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, yang semua itu memiliki hubungan signifikan dengan produktivitasatau kinerja dalam suatu organisasi dan merupakan isu penting dalam dekade mendatang.

Dari kajian beberapa bukti riset, memunculkan kesimpulan bahwa usia tampaknya tidak memiliki hubungan dengan produktivitas. Dan para pekerja tua yang masa kerjanya panjang akan lebihkecil kemungkinannya untuk mengundurkan diri. 

Demikian pula dengan karyawan yang sudahmenikah, angka keabsenan menurun, angka pengunduran diri lebih rendah serta menunjukkan kepuasan kerja yang lebih tinggi dari pada karyawan yang bujangan. Setiap individu pun memiliki kemampuan yang berbeda, kemampuan secara langsung mempengaruhi tingkat kinerja dan kepuasan karyawan melalui kesesuaian kemampuan pekerjaan.

Dari sisi pembentukan perilaku dan sifat manusia, perilaku individu akan berbeda dikarenakan oleh kemampuan yang dimilikinya juga berbeda. Pembelajaran merupakan bukti dari perubahan perilaku individu. Pembelajaran terjadi setiap saat dan relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman. 

DAFTAR PUSTAKA 

Stepphen P Robbins - Timothy A Judge, 2009, Organizational Behavior 13 th edition, (Terjemahan Diana Angelina) Pearson Edudtion Inc Salemba Empat Ardana (dkk), 2008, Perilaku Organisasi, Fakultas Ekonomi, UNUD, Bali 
Makalah Perilaku Individu dalam Organisasi,1 Januari 2013 oleh www. Syardiangsyah. Com http://ardiangsyah.blogspot.com/2013/01/perilaku-individu-dalam-organisasi.html

0 Response to "Makalah Perilaku Individu Dalam Organisasi, karakteristik biografis, kemampuan, kepribadian dan pembelajaran"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel