Resume “SDM Dalam Manajemen Operasional”

1. Peran Stratregis Sumber Daya Manusia dalam Produksi

jj
Adapun peranan atau fungsi SDM dalam Manajemen Operasi menurut Flippo (1984), De Cenzo and Robbins (1996), Milkovich and Boudreau (1997) yaitu:

a}. Peran atau Fungsi Perencanaan

Dalam perencanaan, Manajer Operasi untuk menentukan suatu tujuan subsistem operasi dari suatu organisasi dan mengembangkan sebuah program, kebijakan dan prosedur yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan itu. 

Dalam tahap ini mencakup sebuah penentuan peranan dan fokus dari operasi, termasuk dalam perencanaan produk, perencanaan fasilitas dan perencanaan penggunaan sumber daya produksi.

b}. Peran atau Fungsi Pengorganisasian

Dalam pengorganisasian, Manajer Operasi menentukan sebuah struktur individu, grup, seksi, bagian, divisi atau departemen dalam suatu subsistem operasi untuk mencapai suatu tujuan organisasi. 

Begitu juga ketika manajer operasi dalam menentukan kebutuhan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan operasi serta untuk mengatur wewenang dan tanggung jawab yang diperlukan dalam melaksanakannya.

c}. Peran atau Fungsi Penggerakan

Manajer operasi ini memiliki fungsi yang dilaksanakan dengan memimpin, mengawasi dan memotivasi karyawan untuk melaksanakan tugas.

d}. Peran atau Fungsi Pengendalian

Manajer Operasi mempunyai peran atau fungsi untuk mengembangkan sebuah standar dan jaringan komunikasi yang diperlukan agar sebuah pengorganisasian dan penggerakan sesuai dengan yang direncanakan dan mencapai tujuan.

e}. Pengembangan Tenaga Kerja

Pengembangan tenaga kerja merupakan suatu kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan–peningkatan kualitas tenaga kerja sehingga dapat mengurangi ketergantungan organisasi untuk menarik karyawan baru. 

Adapun tujuan pengembangan Sumber Daya Manusia diarahkan untuk merubah Sumber Daya Manusia yang potensial tersebut menjadi tenaga kerja yang produktif, serta mampu dan terampil sehingga menjadi efektif dan efisien dalam mencapai tujuan organisasi. Pengembangan tenaga kerja dapat dilakukan dengan mengadakan pendidikan dan latihan yang rutin, promosi serta mutasi.

f}. Pemeliharaan Tenaga Kerja

Di dalam pemeliharaan tenaga kerja ada pelaksanaan aspek ekonomis dan non ekonomis yang diharapkan dapat memberikan ketenangan kerja dan konsentrasi penuh bagi pekerja guna menghasilkan prestasi kerja yang di harapkan oleh organisasi. 

Aspek ekonomis berhubungan dengan pemberian kompensasi yang berupa gaji dan bonus yang sebanding dengan hasil kerjanya. Aspek non-ekonomis berupa adanya jaminan kesehatan, kesejahteraan dan keamanan serta kenyamanan dalam bekerja. Adanya kegiatan pemeliharaan tenaga kerja yang memadai akan memperkecil adanya konflik antara tenaga kerja dengan pemberi kerja.

2. Metode Analisis Pekerjaan

Menurut Sastrohadiwiryo (2002), metode yang biasa digunakan dalam analisis pekerjaan adalah sebagai Berikut:

1}. Metode Kuesioner 

Metode kuesioner digunakan sebagai alat pengumpul data secara tertulis dibagikan kepada tenaga kerja operasional atau para kepala departemen, untuk mengisi keterangan dan fakta yang diharapkan. Pada umumnya kuesinoer memuat :
  • Pertanyaan mengenai pekerjaan yang dilakukan, 
  • Tanggung jawab yang diberikan, 
  • Kecakapan, keahlian, atau pelatihan yang diperlukan, 
  • Kondisi yang diharapkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, dan 
  • Figur atau jenis yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut.
2}. Metode Wawancara 

Metode wawancara dilakukan denga tenaga kerja operasional atau dengan kepala departemen mereka, dan dapat juga dengan kedua-duanya. Di samping itu, para penyelia sering ditugaskan untuk memperoleh data analisis pekerjaan. 

Keuntungan dari metode ini adalah penyajian keterangan dan fakta dari pihak pertama. Namun metode ini sangat membutuhkan waktu yang cukup lama.

3}. Metode Pencatatan Rutin
 
Dalam metode ini, tenaga kerja diperintahkan mencatat hal yang dikerjakan tiap hari secara rutin, alokasi yang dibutuhkan, saat dimulai dan saat akhir tiap-tiap tugas itu dilakukan. Alokasi waktu yang lama, dan pengerjaan yang cermat dan rutin merupakan kelemahan dari metode ini. 

Metode observasi pada umumnya dilakukan oleh job analyst yang sebelumnya memperoleh pelatihan dan upgrading secara khusus. Metode observasi biasanya tidak dilakukan bersamaan dengan metode wawancara job analyst mengadakan observasi terhadap masing-masing pekerjaan dan mengadakan wawancara dengan tenaga operasional serta kepala departemen mereka.

3. Job Design dan Kepuasan Pelanggan


Konsep desain kerja (job design) dan mendesain kembali pekerjaan (job redesign) berhubungan langsung terhadap kehidupan kerja para pegawai. Certo mengemukakan bahwa sepertiga dari pekerjaan pimpinan dapat digunakan untuk memotivasi para pegawainya dalam hubungannya untuk mendesain pekerjaan.
  • Robins mengemukakan bahwa desain kerja (job design) merupakan istilah yang menunjukkan bagaimana tugas-tugas dikombinasikan untuk membentuk pekerjaan yang lengkap. 
  • Schemerhorn mempertegas bahwa desain pekerjaan (job design) merupakan pengalokasian daftar pekerjaan untuk individu dan kelompok. 
  • Sedangkan Scarborough mengemukakan bahwa desain pekerjaan dapat didefinisikan sebagai isi, fungsi dan hubungan-hubungan dari pekerjaan yang diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi dan untuk kepuasan pegawai dalam melakukan pekerjaan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan para ahli dapat disimpulkan bahwa konsep desain kerja (job design) merupakan rincian tugas dan pelaksanaan tugas untuk individu maupun kelompok yang mana dapat mengantarkan organisasi dalam mencapai tujuan. 

Desain kerja sangat penting dan bermanfaat untuk mencapai efektifitas dan efesiensi kerja. Adapun pentingnya desain kerja tersebut bagi para pegawai dilatarbelakangi oleh beberapa alasan, diantaranya adalah sebagai berikut: 
  • Semangat kerja dalam spesialisasi yakni: tingginya produktifitas dari para pekerja yang tidak mempunyai keterampilan memerlukan waktu yang tidak banyak dalam latihan, mudah untuk mengganti dan pimpinan dalam pelaksanaan pekerjaan. 

  • Dilihat dari motivasi dan semangat kerja terdiri dari: tingginya produktivitas dan tantangan pekerjaan berkurangnya ketidak hadiran, kurangnya pergantian, tingginya kualitas produksi, banyaknya pegawai yang memberikan ide-ide dan gagasan serta saran-saran dan tingginya kepuasan kerja dari pada pegawai.
Desain pekerjaan merupakan faktor penting dalam manajemen terutama manajemen operasi karena selain berhubungan dengan produktifitas juga menyangkut tenaga kerja yang akan melaksanakan kegiatan perusahaan (Sulipan, 2000). 

Desain pekerjaan mutlak dimiliki oleh setiap perusahaan karena dalam desain pekerjaan yang dilakukan adalah merakit sejumlah tugas menjadi sebuah pekerjaan agar pekerjaan yang dilakukan menjadi terarah dan jelas. Menurut (Sunarto, 2005) desain pekerjaan memiliki tujuan agar: 
  • Efisiensi operasional, produktifitas dan kualitas pelayanan menjadi optimal 
  • Fleksibilitas dan kemampuan melaksanakan proses kerja secara horizontal dan hirarki  

  • Minat, tantangan, dan prestasi menjadi optimal 
  • Tanggung jawab tim ditetapkan sedemikian rupa, sehingga bisa meningkatkan kerja sama dan efektifitas tim 
  • Integrasi kebutuhan individu karyawan dengan kebutuhan organisasi

0 Response to "Resume “SDM Dalam Manajemen Operasional”"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel