Resume "Konsep Dasar dan Peran Strategi Manajemen Persediaan Dalam Proses Produksi"

2.1 Manajemen Persediaan Dalam Proses Produksi 


Salah satu fungsi manajerial yang sangat penting dalam operasional suatu perusahaan adalah pengendalian persediaan (inventory controll), karena kebijakan persediaan secara fisik akan berkaitan dengan investasi dalam aktiva lancar di satu sisi dan pelayanan kepada pelanggan di sisi lain.

Konsep Dasar dan Peran Strategi Manajemen Persediaan Dalam Proses Produksi
Pengaturan persediaan ini berpengaruh terhadap semua fungsi bisnis (operation, marketing, dan finance). Berkaitan dengan persediaan ini terdapat konflik kepentingan diantara fungsi bisnis tersebut. Finance menghendaki tingkat persediaan yang rendah, sedangkan Marketing dan operasi menginginkan tingkat persediaan yang tinggi agar kebutuhan konsumen dan kebutuhan produksi dapat dipenuhi. 

Berkaitan dengan kondisi di atas, maka perlu ada pengaturan terhadap jumlah persediaan, baik bahan-bahan maupun produk jadi, sehingga kebutuhan proses produksi maupun kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi.

Tujuan utama dari pengendalian persediaan adalah agar perusahaan selalu mempunyai persediaan dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam spesifikasi atau mutu yang telah ditentukan sehingga kontinuitas usaha dapat terjamin (tidak terganggu). 

Usaha untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip ekonomi, yaitu jangan sampai biaya-biaya yang dikeluarkan terlalu tinggi. Baik persediaan yang terlalu banyak, maupun terlalu sedikit 

akan minimbulkan membengkaknya biaya persediaan. Jika persediaan terlalu banyak, maka akan timbul biaya-biaya yang disebut carrying cost, yaitu biaya-biaya yang terjadi karena perusahaan memiliki persediaan yang banyak, seperti : biaya yang tertanam dalam persediaan, biaya modal (termasuk biaya kesempatan pendapatan atas dana yang tertanam dalam persediaan), sewa gudang, biaya administrasi pergudangan, gaji pegawai pergudangan, biaya asuransi, biaya pemeliharaan persediaan, biaya kerusakan/kehilangan, 

Begitu juga apabila persediaan terlalu sedikit akan menimbulkan biaya akibat kekurangan persediaan yang biasa disebut stock out cost seperti : mahalnya harga karena membeli dalam partai kecil, terganggunya proses produksi, tidak tersedianya produk jadi untuk pelanggan. Jika tidak memiliki persediaan produk jadi terdapat 3 kemungkinan, yaitu: 
  • Konsumen menangguhkan pembelian (jika kebutuhannya tidak mendesak). Hal ini akan mengakibatkan tertundanya kesempatan memperoleh keuntungan. 
  • Konsumen membeli dari pesaing, dan kembali ke perusahaan (jika kebutuhan mendesak dan masih setia). Hal ini akan menimbulkan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan selama persediaan tidak ada. 
  • Yang terparah jika pelanggan membeli dari pesaing dan terus pindah menjadi pelanggan pesaing, artinya kita kehilangan konsumen. 
Selain biaya di atas dikenal juga biaya pemesanan (ordering cost) yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan sejak penempatan pesanan sampai tersedianya bahan/barang di gudang. Biaya-biaya tersebut antara lain : biaya telepon, biaya surat menyurat, biaya adminisrasi dan penempatan pesanan, biaya pemilihan pemasok, biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan pemeriksaan bahan/barang. 

Persediaan atau inventory adalah salah satu elemen utama dari modal kerja yang terus menerus mengalami perubahan. Tanpa persediaan, perusahaan akan menghadapi risiko, yaitu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan atas barang produksi. Manajemen persediaan adalah kegiatan menentukan tingkat dan komposisi persediaan.

Kegiatan tersebut akan membantu perusahaan dalam melindungi kelancaran produksi dan dengan efektif dan efisien. Kegiatan pengawasan persediaan meliputi perencanaan persediaan, penjadwalan pemesanan (scheduling), pengaturan penyimpanan dan lain-lain. Semua kegiatan tersebut bertujuan menjaga tersedianya persediaan yang optimum didalam suatu perusahaan . 

Dalam pengawasan persediaan, perlu diperhitungkan cara, jumlah, sehingga tidak terjadi pemborosan, dan waktu pemesanan. Sedangkan khusus persediaan perlu ditentukan besar persediaan penyelamat (safety stock), yaitu jumlah minimum, dan besar penyediaan pada waktu pemesanan kembali dilakukan.


2.2 Elemen Dalam Manajemen Persediaan 

Bentuk dan elemen persediaan umumnya tergantung karakteristik perusahaan, yaitu; 
Peruahaan dagang memiliki elemen persediaan berupa persediaan barang dagang, yaitu barang dagangan yang dimiliki perusahaan atau belum dijual pada saat atau tanggal tertentu.

Perusahaan manufaktur memiliki elemen persediaan sbb; 
  • Persediaan produk selesai, yaitu produk selesai yang dimiliki perusahaan atau belum dijual pada tanggal tertentu. 
  • Persediaan produk dalam proses, yaitu produk dalam proses yang dimiliki perusahaan pada tanggal tertentu. 
  • Persediaan bahan atau disebut dengan persdiaan barang mentah, yaitu meliputi bahan baku dan bahan penolong yang dimiliki perusahaan atau belum dimasukkan di dalam pengolahan produk pada tanggal tertentu. 

2.3 Sistem Persediaan 
  • Sistem pencatatan periodik 
Sistem pencatatan periodik lebih mudah bagi perusahaan yang memiliki sistem yang belum terpadu. Sistem ini sangat sederhana bagi perusahaan kecil yang memiliki SDM terbatas dalam hal ketelitian. Karena sistem ini hanya mewajibkan akunting mencatat penjualan yang sama dengan bukti transaksi.

Jadi setelah transaksi penjualan dan pembelian sudah dilaksanakan pada akhir bulan akunting wajib untuk opname persediaan yang masih di gudang untuk mengetahui sisa persediaan setelah adanya transaksi jual beli selama satu periode pencatatan. 

Prosedur yang harus dilakukan oleh akuntan pertama yaitu mencatat persediaan yang ada di gudang sebelum sistem berjalan. Saat ada transaksi jual beli akuntan dapat memosting transaksi tersebut dan mendebit akun pembelian jika pembelian terjadi. Namun jika penjualan terjadi maka akuntan mengkredit akun pembelian.

Setelah akhir periode pencatatan akuntan wajib opname ulang persediaan yang dimiliki perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menghitung harga pokok penjualan yang nantinya untuk menghitung laba-rugi perusahaan selama satu periode pencatatan. Setelah beberapa data terpenuhi dapat di masukkan tabel dengan cara sebagai berikut: HPP=Stok Awal + pembelian – penjualan – Stok akhir 

Nantinya akuntan memiliki 2 data, yaitu harga pokok penjualan yang nantinya dilaporkan dalam laba-rugi dan laporan stok barang yang ada di gudang. 
  • Sistem pencatatan perpetual 
Sistem pencatatan perpetual merupakan sistem pencatatan yang di catat langsung saat transaksi tersebut berlangsung, semua akun langsung dapat diketahui pada saat transaksi berlangsung. Maka dari itu akuntan harus menjurnal akun Harga Pokok dalam posting transaksi pembelian atau pun penjualan. 

Sistem pencatatan ini lebih rumit dibanding sistem pencatatan periodik, karena akuntan wajib memasukkan jurnal harga pokok ini berarti akuntan harus memiliki data harga pokok. maka dari itu perusahaan retail sangat jarang memilih pencatatan persediaan dengan sistem perpetualNamun terlepas dari perlunya ketelitian akuntan, sistem pencatatan perpetual lebih tidak memakan waktu dari pada periodik.

Karena tidak memerlukan opname persediaan pada akhir bulan. Sehingga sistem sudah berjalan ketika adanya transaksi penjualan ataupun pembelian pada saat akuntan posting di dalam jurnal. 

2.4 Economic Order Quantity (EOQ) 

Economic order quantity adalah tingkat persediaan yang meminimalkan total biaya menyimpan persediaan dan biaya pemesanan. Ini adalah salah satu model tertua penjadwalan produksi klasik. Tujuan economic order quantity, adalah agar kuantitas Persediaan yang dipesan dan total biaya persediaan dapat diminimumkan sepanjang periode perencanaan produksi. 

Hal-hal yang berkaitan dengan EOQ dan sangat perlu untuk diperhatikan adalah masalah klasifikasi biaya. Pentingnya klasifikasi biaya akan memudahkan kita dalam melakukan analisis, sehingga hasil yang akan diperoleh dapat diakui kebenarannya. Secara umum klasifikasi biaya yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: 
  • Biaya angkut/penyimpanan atau carrying cost (CC) 
  • Biaya pemesanan atau ordering cost (OC) 
  • Biaya total atau total cost (TC) 

ASUMSI: 
  • Kecepatan permintaan tetap dan terus menerus. 
  • Waktu antara pemesanan sampai dengan pesanan datang (lead time) harus tetap. 
  • Tidak pernah ada kejadian persediaan habis atau stock out. 
  • Material dipesan dalam paket atau lot dan pesanan dating pada waktu yang bersamaan dan tetap dalam bentuk paket. 
  • Harga per unit tetap dan tidak ada pengurangan harga walaupun pembelian dalam jumlah volume yang besar. 
  • Besar carrying cost tergantung secara garis lurus dengan rata-rata jumlah persediaan. 
  • Besar ordering cost atau set up cost tetap untuk setiap lot yang dipesan dan tidak tergantung pada jumlah item pada setiap lot.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menghitung EOQ: 
  • D : Besar laju permintaan (demand rate) dalam unit per tahun. 
  • S : Biaya setiap kali pemesanan (ordering cost) dalam rupiah per pesanan 
  • C : Biaya per unit dalam rupiah per unit 
  • i : Biaya pengelolaan (carrying cost) adalah persentase terhadap nilai persediaan per tahun. 
  • Q : Ukuran paket pesanan (lot size) dalam unit 
  • TC : Biaya total persediaan dalam rupiah per tahun. 
  • H : Biaya penyimpanan ( rupiah / unit / tahun )

0 Response to "Resume "Konsep Dasar dan Peran Strategi Manajemen Persediaan Dalam Proses Produksi" "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel